Archive for the ‘Coretan di Dinding’ Category

Ketika Memasuki Medan Laga Sebagai Pilihan dalam Perjuangan Idealisme (Bagian 1)

December 29, 2013

*** Ketika Memasuki Medan Laga Sebagai Pilihan dalam Perjuangan Idealisme *** #1

Oleh: Budi Setiawan (29/12/13; 22:42 WIB)

I. Ini Adalah Sebuah Pilihan
Masih teringat dan terekam dengan jelas sebuah analogi, melekat jauh di dasar memori diri, kondisi lautan penuh gelombang ganas dan siap mengkaramkan setiap perahu yang berlayar di atasnya. Gelombang yang terus bergemuruh dan menggulung membesar, deburannya tiada henti menghantam dinding perahu layar yang sedang dikendali.

Para nahkoda adalah manusia biasa, terbersit takut perahu karam tak bersisa, didera deburan ombak cermin lukisan angkara murka. Kondisi ini pada dasarnya manusiawi, status quo kerap memasung keberanian diri. Sempat selalu salahkan keadaan, mengapa ombak lautan tak bersahabat dengan perahu yang sedang dikendalikan… Sang nahkoda berteriak ke sana ke sini, parau suaranya habis ditelan sunyi.

Sumber: Google Images

Sumber: Google Images

Sampai pada suatu masa, para nahkoda pun belajar dari rangkaian cerita kehidupan yang terpatri seiring masa. Pembelajaran tiada henti, didasari pada sebuah keyakinan… tentang lebih baiknya tatanan kehidupan. Fakta kehidupan yang memberikan pilihan peluang dengan beragam kejadian majemuk, ada yang saling lepas; tidak lepas, saling bebas; dan bahkan tidak bebas.

Jika pilihan itu ada dua, maka peluang terpilihnya tepat sebuah pilihan sukses adalah 1:2 atau 50%. Saat ada tiga pilihan, maka peluang terpilihnya tepat sebuah pilihan sukses adalah 1:3 atau 33,33%. Artinya, semakin banyak pilihan yang tersedia, maka peluang terpilihnya tepat sebuah pilihan sukses akan semakin kecil.

Lalu apa yang harus dipilih para nahkoda? apakah dengan berdiam diri dan pasrah pada deburan ombak yang selalu menghantam dinding perahu? apakah dengan menyalahkan ganasnya deburan ombak yang ada, lalu mencoba menciptakan sebuah sistem kendali gelombang? ataukah dengan mencoba memperbaiki dan meningkatkan kualifikasi perahu secara parsial? Ya, itu semua adalah pilihan, yang dipilih berdasarkan keyakinan dan buah pemikiran. Terkadang mempertimbangkan hitungan angka-angka, namun terkadang juga mengacu pada pemikiran di luar logika angka.

*** Bersambung ***

Senandung Angin Berbisik Lirih

December 28, 2012

***Senandung Angin Berbisik Lirih***
Karya: Budi Setiawan

Duhai jiwa-jiwa yang saat ini sedang terbakar api kebencian…
Di mana tiada lagi titik cahaya yang dapat disaksikan…
Di mana tiada lagi senandung rindu yang dapat dengan jernih didengarkan…
Di mana tiada lagi celah hati tuk pahatkan kebaikan nama di hati…

Semoga senandung angin ini masih mampu berbisik lirih…
Lirih… dan nyaris tak terdengar dalam upaya menyampaikan…
Tulus ikhlas… ku panjatkan doa, semoga senantiasa sehat dan selalu berada dalam lindungan-Nya…
Terima kasih tiada terkira akan segala jasa…
Semoga menjadi amal ibadah yang tiada terkira…
Tiada yang tidak mungkin… tiada yang tidak bisa…
Itulah filosofi yg ku pahatkan dalam hati…

Senandung angin berbisik lirih…
Silaturahim semoga tetap tertaut erat di relung hati
Ikhlas hati lepaskan diri…
Tiada beban… tiada benci…

Senandung angin berbisik lirih…
Sesungguhnya aku tidak sendiri…
Sang Pemilik Jiwa bersama pribadi ini…

Senandung angin berbisik lirih…
Sabarlah…. dan semuanya akan menjadi INDAH….

Cibinong, 28/12/12