Mahasiswa (semestinya) memiliki lompatan quantum dalam berwirausaha

Oleh: Budi Setiawan

The Founder of BDS EDUCENTER

Keberadaan Usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia terbukti tangguh, mampu bertahan, dan bahkan menjadi andalan dalam kondisi krisis ekonomi terburuk yang dialami Indonesia pada tahun 1998. Kemampuan survival yang tinggi ini didukung oleh karakteristik positif UMKM, di antaranya adalah “tahan banting”, fleksibel, dan efisien (dikerjakan oleh seluruh keluarga). Jumlah penduduk Indonesia yang senantiasa mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun, dalam perspektif bisnis tentu saja memberi peluang dan kesempatan yang semakin besar.

Fenomena saat ini adalah relatif semakin bertambahnya jumlah pengangguran terdidik, yakni para sarjana (S1) maupun Ahli Madya (Diploma) yang belum dapat terserap ke dunia kerja, setelah mereka menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Tidak dapat dipungkiri, orientasi mahasiswa pada umumnya setelah menyelesaikan kuliah adalah menjadi seorang pegawai pada sebuah perusahaan. Sehingga dengan demikian menjadi tugas besar bagi perguruan tinggi untuk menumbuhkembangkan jiwa dan semangat wirausaha di kalangan mahasiswa.
Perubahan perilaku merupakan perubahan kecil, namun perubahan mindset atau pola pikir merupakan perubahan yang besar bagi seseorang. Mengubah mindset dari seorang pencari kerja menjadi pembuka lapangan kerja adalah sebuah keniscayaan. Seorang wirausahawan adalah seorang petarung tangguh, mandiri dan merdeka. Berhasil tidaknya usaha yang dijalani sangat tergantung dari seberapa pantas kerja keras dan kerja cerdas yang telah dilakukan. Ketidakpastian adalah sahabat terdekat dari seorang wirausawan. Kalimat tersebut pada awalnya terdengar menakutkan. Namun, bukankah dengan ketidakpastian justru kita berpotensi memperoleh hasil yang jauh lebih besar dari sesuatu yang telah pasti.

Keberhasilan sebuah usaha tentu saja perlu didukung oleh penerapan fungsi-fungsi manajemen. Segala sesuatunya perlu direncanakan dengan baik, diorganisasikan, dilaksanakan, dan senantiasa dilakukan pengawasan. Itulah yang membedakan antara seorang wirausaha yang memiliki kemampuan akademis yang baik dibandingkan dengan seorang wirausaha yang hanya mengandalkan intuisi dan dibentuk oleh pengalaman.

Seorang wirausahawan yang terdidik semestinya memiliki lompatan quantum, yakni berorientasi pada tindakan, kreatif, berpikir perubahan, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Usaha yang dijalankan tidak hanya sekedar usaha untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, namun telah dirancang sedemikian rupa agar tumbuh kembang menjadi usaha yang mampu bermanfaat bagi orang banyak. Ide kreatif dapat muncul dengan memperhatikan berbagai tanda yang ada, maupun menselaraskannya dengan hobi, keahlian, maupun pengalaman yang dimiliki.

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: